Waspadai Penipuan Fintech Bodong dan yang Mencatut Nama Fintech Resmi

          Masih ingat dengan artikel “Biar Duit THR-mu Tidak Boncos, Cermat Memilih Investasi dan Jangan Mudah Tergiur Keuntungan Berlipat” yang tayang di bulan Mei lalu? Iya, fintech palsu atau bodong dengan mencatut nama fintect resmi yang sudah terdaftar dan tercatat di OJK ini masih marak terjadi.

            Termasuk salah satunya aplikasi Pede, hingga kini akun group aplikasi Telegram yang mengatasnamakan PEDE PONSEL DUIT masih beroperasi melakukan modus penipuan. Padahal aplikasi Pede tidak pernah satupun membuat akun aplikasi Telegram, di mana media resmi Pede selain di aplikasi yang tersedia di sini, hanya ada di website, Facebook, Instagram, dan Twitter saja (klik tautannya untuk lihat akun resmi kami).

            Nah per hari ini, tepatnya tanggal 15 Juli 2021, serentak Pede dengan Asosiasi Fintech Indonesia, meluncurkan Kampanye Anti Fintech Palsu dengan tema “Waspada Pencatutan Nama dan Logo Penyelenggara Fintech Resmi di Aplikasi Pesan Instan dan Media Sosial”

            Melalui kampanye ini, Sobat Pede semua diingatkan kembali untuk mewaspadai adanya pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab mengatasnamakan Pede hanya untuk mengimingi-imingi kamu sebuah keuntungan yang besar melalui media yang tidak resmi, seperti salah satunya adalah akun group Telegram tadi.

            Untuk itu, sekali lagi, mari waspadai aktivitas penipuan tersebut dengan beberapa langkah sebagai berikut:

  1. Berhati-hati atas berbagai bentuk penawaran dari akun-akun palsu yang melakukan pencatutan nama dan logo penyelenggara fintech resmi.
  2. Selalu menjaga kerahasiaan username, password, secure PIN, dan data pribadi penting lainnya dan tidak memberikan data-data personal ini kepada siapa pun.
  3. Tidak mentransfer sejumlah uang ke oknum-oknum penipu dengan akun aplikasi pesan instan dan media sosial palsu yang mengatasnamakan penyelenggara fintech resmi.
  4. Selalu cek penawaran yang diterima telah memenuhi prinsip 2L, yaitu:
    a. Legal, yaitu cek legalitas kelembagaan dan izin usahanya terdaftar OJK atau tidak
    b. Logis, dengan tidak mudah percaya iming-iming keuntungan sangat besar tanpa adanya risiko dalam berinvestasi
  5. Legal, yaitu cek legalitas kelembagaan dan izin usahanya terdaftar OJK atau tidak
  6. Logis, dengan tidak mudah percaya iming-iming keuntungan sangat besar tanpa adanya risiko dalam berinvestasi
  7. Hanya memilih perusahaan dan produk fintech yang telah terdaftar dan berizin.
  8. Cek dulu kebenarannya di www.cekfintech.id

            Bila tilik lagi kasus penipuan investasi yang dilakukan melalui aplikasi Telegram, dalam beberapa bulan terakhir ini masih ramai terjadi, dan bukan hanya terjadi pada aplikasi Pede saja, tapi terjadi juga di aplikasi fintech yang juga resmi terdaftar di OJK.

            Modusnya hampir selalu sama, oknum tersebut menawarkan investasi melalui grup percakapan seperti Telegram. Melalui fitur yang ada, pelaku menjaring targetnya dengan memasukkannya ke grup di Telegram.

            Di grup itulah korban diiming-imingi untung besar yang luar biasa menggiurkan dengan skema keuntungan hingga 40% per hari! Setelah korban mentransfer uangnya, pelaku akan mengatakan slot untuk investasi penuh. Jika tak ingin uang hangus, maka korban harus menambah atau top-up investasinya.

            Modus itu dilakukan berulang sampai akhirnya korban sadar bahwa uangnya sudah cukup banyak yang dia serahkan. Akhirnya, korban sadar bahwa dirinya sudah ditipu karena uang investasinya tak kunjung cair. Nah, selain korban yang telah ditipu daya, yang dirugikan di sini tentu juga adalah pemilik resmi fintech yang dicatut namanya ini.

            Berdasarkan data OJK, investasi ilegal di Indonesia telah menimbulkan kerugian masyarakat hingga Rp117,4 triliun yang dicapai dari tahun 2011 hingga 2021. Luar biasa, bukan? Nah biar tidak terjadi pada kamu untuk modus penipuan ini, menyadur dari Katadata.co.id & kompas.com, berikut ini cara mengenali investasi bodong yang seringnya mencatut nama fintech resmi.

  1. Selalu menjanjikan keuntungan tidak wajar dalam waktu cepat dan instan. Terkesan tidak perlu usaha untuk mendapatkan keuntungan besar ini, yang menyebut cukup tekan layar telepon selular atau ponsel dapat mendapat uang lebih.
  2. Biasanya menjanjikan bonus dari perekrutan anggota baru dengan skema seperti member get member.
  3. Selain mencatut nama produk, biasanya juga mencatut juga nama-nama tokoh masyarakat, tokoh agama atau tokoh public sehingga terkesan sudah terbukti.
  4. Selalu menyatakan bebas risiko atau risk free
  5. Untuk oknum yang tidak mencatut nama fintech resmi, biasanya legalitas izin mereka dipertanyakan, seperti tidak memiliki izin, memiliki kelembagaan tapi tidak punya izin usaha, memiliki izin kelembagaan dan izin usaha namun melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan izin usaha yang dimiliki.